Kemegahan Masjid Agung Al-A’raaf Rangkasbitung

Pernahkah Anda membaca atau menonton film Max Havelar oleh Multatuli? Adipati Natanegara, salah satu karya antagonis novel sejarah, terletak di kompleks makam Adipati Lebak di belakang Kompleks Masjid Agung Al-A’raaf Rangkasbitung. Rangkasbitung adalah ibu kota Kabupaten Lebak, provinsi Banten. dan Duke Natanegara menjabat sebagai bupati Lebak dari tahun 1830-1865.

Makamnya, yang terletak di belakang Masjid Raya Lebak di sebelah barat alun-alun, terlihat sangat sederhana. Dalam novel Max Havelaar ia diceritakan sebagai seorang feodalis yang sering menindas orang. Makam ini masih sering dikunjungi, terutama oleh keturunan adipati.

Kemegahan Masjid Agung Al-A'raaf Rangkasbitung

.

Masjid Agung Al-A’raaf atau Masjid Agung Rangkasbitung atau Masjid Agung Alun Alun Rangkasbitung adalah Masjid Agung untuk Kabupaten Lebak, yang pertama kali dibangun pada tahun 1928 di atas lahan seluas 3.264 m2. Sejak awal, telah mengalami beberapa perubahan, baik fisik maupun perluasan area bangunan.

.

Perombakan pertama dilakukan pada tahun 1988 dan diresmikan pada tahun 2002 dengan harga Rp. 2.953.334.180, pada masa pemerintahan bupati Dr. H. Yasa’a Mulyadi. Bangunan masjid saat ini merupakan hasil konstruksi pada tahun 2004 dan selesai pada tahun 2009 dengan harga Rp. 17.500.000.000,00 selama tur Bupati H. Mulyadi Jayabaya.

.

Keunikan dalam Al-A’raf Masjd adalah meriam yang biasanya digunakan di bulan Ramadhan untuk memberi tanda bahwa waktunya telah tiba untuk berbuka puasa bagi masyarakat Kabupaten Lebak dan untuk itu Akhiri makan selama bulan suci Ramadhan.

Pemandangan Masjid Agung Al-A’raf Rangkasbitung

Menurut informasi yang tersedia bagi saya, pembangunan Masjid Agung Al-A’raf Rangkasbitung di Tanah Wakaf dibangun pada tahun 1932. Luas pembangunan 1.632 m2 dengan kapasitas sekitar 2.500 orang percaya. Sejak didirikan, Masjid Agung Al A’araf telah direnovasi beberapa kali, baik secara fisik maupun di area bangunan. Yang pertama adalah pada tahun 1988 dan dilantik pada tahun 2002 ketika kepemimpinan Bupati Kabupaten Lebak, Dr. H. Yas’a Mulyadi, maka restorasi kedua dilakukan antara 2004 dan 2009 dan diresmikan oleh bupati Kabupaten Lebak, Bpk. H. Mulyadi Jayabaya.

Bangunan Masjid Agung adalah persegi atau persegi panjang dan dibangun pada satu tingkat dengan halaman tertutup, dikelilingi oleh pagar besi setinggi sekitar 3 meter. Desain Masjid Agung disimpan dalam gaya modern dan minimalis. Bagian depan bangunan ditutupi dengan marmer dan dihiasi dengan bentuk geometris sederhana seperti kotak dan kubus.

Masjid Agung Al-A’araf terdiri dari 2 lantai, lantai dasar dan lantai dasar. Kantor Departemen Agama Kabupaten Lebak dan administrasi masjid terletak di lantai dasar. Layanan doa diadakan di lantai dasar. Sementara bagian atap masjid masih memiliki lancip berbentuk kubah kerucut kecil dengan bahan bata merah untuk memberi kesan tradisional.

Bangunan menara

Masjid Agung Al-A’raf memiliki menara tunggal besar yang menjulang tinggi sekitar 40 meter. Saya tidak mendapatkan informasi yang pasti ketika saya di sana. Keberadaan bangunan menara ini berfungsi untuk menyebarkan panggilan sholat atau ibadah. Berbeda dengan masa lalu, muazin tidak lagi harus memanjat puncak menara untuk mengulangi panggilan sholat, karena beberapa pengeras suara sudah dipasang di bagian luar gedung menara.

Ada ruang kecil di bagian atas menara di mana hanya pemeliharaan rutin bangunan masjid diperiksa. Untuk mencapai ruangan, masyarakat harus terlebih dahulu meminta izin dari administrasi masjid dan kemudian mencapainya melalui tangga besi atau menggunakan lift yang lebih nyaman dan lebih cepat. Ketika saya berada di sana, liftnya rusak dan tidak dapat digunakan, walaupun saya benar-benar ingin naik menara untuk melihat hanya pemandangan kota Rangkasbitung pada siang hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *